Tugas
individu makalah: bahasa Indonesia
PENDIDIKAN BAHASA
DISUSUN
O
L
E
H
Anita Dian
Pratiwi
JURUSAN TARBIYSH/KI-1a
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN KENDARI
2012/2013
KATA
PENGANTAR
Alhamdullilah,
puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan
hidayahnya maka dapat menyelesaikan makalah kelompok mata kulia bahasa
Indonesia dengan waktu yang telah di tetapkan. Tugas ini kami susun dengan
maksud untuk memenuhi persyaratan mata kulia “Pendidikan Bahasa”.
Sebagai
manusia biasa, kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari sempurna oleh
karena ketrebatasan serta pengetahuan yang kami miliki. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun di masa yang akan datang.
Akhirnya
melalui sebuah do’a dan harapan semoga makalah ini dapat terdapat bermanfaat
khususnya bagi kami dan bagi para pembaca semua.
Penulis
i
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR
ISI..................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang................................................................................1
B.
Rumusan
Masalah...........................................................................2
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Bahasa Indonesia........................................2
B.
Problematika
Pendidikan di Indonesia............................................3
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan.......................................................................................5
B.
Saran...............
.................................................................................5
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu program negara yang mempunyai fungsi
dan tujuan yang nyata. Pendidikan berfungsi untuk membentuk watak dan karakter
bangsa yang bermartabat serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh setiap
waraganya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan sikap individu (peserta
didik) agar menjadi manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi
luhur, berilmu, mandiri, serta bertanggung jawab. Oleh sebab itu, tujuan yang
luhur itu harus benar-benar mendapat perhatian khusus agar bangsa ini tidak
dipandang sebagai bangsa yang kehilangan karakternya.
Sudah lebih dari sengah abad bangsa
Indonesia merdeka, tapi sampai saat ini justru bangsa Indonesia semakin
mengalami degradasi karakter kebangsaan. Meningkatnya tindak kriminal dan
semakin menjadi-jadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di bangsa ini
menunjukan bahwa masyarakat Indonesia sedang kehilangan jati diri. Belum lagi
ancaman disintegrasi bangsa yang menggejala di berbagai daerah semakin
menguatkan bahwa bangsa ini sedang mengalami kriris karakter kebangsaan
Pendidikan
yang semestinya menjadi motor ”perbaikan” sekaligus ”pembentukan” karakter
bangsa justru mengalami kegagalannya. Meskipun mengalami kegagalan, pendidikan
masih menjadi sarana yang paling efektif untuk membentuk karakter bangsa
Indonesia yang sesungguhnya. Reorientasi pendidikan dengan mendorong peran
pemerintah lebih optimal serta revitalisasi pendidik merupakan langkah awal
yang harus ditempuh untuk menjadikan pendidikan sebagai motor perbaikan dan
pembentukan karakter bangsa. Pendidikan terpadu merupakan sebuah tawaran
solutif atas implementasi pembelajaran yang berlansung selama ini yang telah
menyebabkan pendidikan terdikotomi.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan
Bahasa Indonesia
Pendidikanbahasa
Indonesia
merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari tingkat
pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Akan tetapi yang sangat mengherankan
sebagai warga negara Indonesia yang mengenyam pendidikan dan mempelajari bahasa
Indonesia masih banyak yang belum mengerti dengan baik bahasa Indonesia baik
secara lisan maupun tertulis. Hal ini terlihat dari masih banyaknya pelajar
yang memiliki nilai Ujian Nasional yang masih sangat rendah.
Bahasa
Indonesia
adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa
Indonesia. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa
kerja.
Dari
sudut pandang linguistik, bahasa
Indonesia
adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Penamaan
"Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28
Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila
nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan
berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang
digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia
merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik
melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun
dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia
bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia
menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa
ibu. Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif
mudah.
Tidak
jarang mahasiswa diperlakukan seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di
Fakultas Sastra dan Bahasa. Setelah 12 tahun belajar Bahasa Indonesia, apakah
mereka sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara
tertulis maupun terlisan?
Lalu
bagaimana dengan kemampuan berbahasa
Indonesia
mahasiswa S2? Seperti halnya mahasiswa D3 dan S1, ternyata sebagian mahasiswa
S2 dan S3 juga masih lemah dalam berbahasa Indonesia. Paparan singkat di atas membuktikan
ketidakmampuan sebagian (besar?) mahasiswa dalam berbahasa Indonesia, dalam hal
ini bahasa tulisan. Lalu apa yang mesti dikerjakan para dosen Bahasa Indonesia
yang ternyata tidak semua bergelar sarjana Bahasa Indonesia?
Dengan
kata lain, setiap dosen harus mampu menjadi dosen Bahasa Indonesia.
Artikel-artikel opini yang berkaitan langsung dan tak langsung dengan bahasa
Indonesia yang dimuat di media massa cetak pun jangan pula dilewatkan. Dalam
konteks tulisan ini, bukan dosen bahasa Indonesia mengajari mahasiswa,
melainkan dosen bahasa Indonesia dan mahasiswa sama-sama belajar bahasa
Indonesia. Bila beberapa upaya ini dapat dilaksakanakan sungguh-sungguh dan
2
dengan senang hati
oleh para mahasiswa dan dosen bahasa Indonesia, maka kita yakin para lulusan
perguruan tinggi kita tidak hanya mampu dan terampil berbahasa Indonesia secara
terlisan dan tertulis, tetapi juga sungguh-sungguh mencintai bahasa nasional
mereka sendiri.
B .
Problematika Pendidikan di Indonesia
Pendidikan
beasal dari bahasa Inggris yaitu “education”,
berakar dari bahasa Latin “educare”
yang berarti pembimbingan berkelanjutan (to
led forth). Jika diperluas, arti etimologis itu mencerminkan adanya
pendidikan yang berlangsung secara terus menerus dari generasi yang satu ke
generasi selanjutnya sepanjang keberadaan kehidupan manusia. Sedangkan secara
teoritis, ada pendapat yang mengatakan bahwa pada umumnya pendidikan bagi
manusia itu berlagsung sejak 25 tahun sebelum kelahiran. Pendapat itu diartikan
bahwa sebelum menikah, ada kewjiban bagi siapa pun untuk mendidik diri sendir
terlebih dahulu sebelum mendidik anak keturunannya. Secara praktis ada pendapat
yang mengatakan bahwa bagi manusia individual, pendidikan itu telah dimulai
sejak bayi lahir, bahkan sejak bayi itu berada di dalam kandungan sang ibu.
Melihat dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keberadaan
pendidikan itu melekat erat pada dan di dalam diri manusia sepanjang jaman.
Jadi
pendidikan adalah masalah khas manusia. Artinya adalah hanya manusialah yang
mempunyai persoalan pendidikan sepanjang dia itu hidup. Sedangkan makhluk lain
hidup dalam keadaan yang relatif stabil tanpa adanya sebuah perubahan yang
berarti, apalagi perkembangan. Kita ambil contoh adalah ayam. Ketika ayam baru
saja menetas dari telurnya bisa langsung hidup mencari makan sendiri secara
naluriah. Berbeda sekali dengan manusia. Ketika bayi baru lahir, dia masih
berada dalam kondisi yang labil dan terus menerus melakukan perubahan dan
perkembangan, baik secara fisik maupun piskisnya. Agar menjadi manusia yang
bisa diandalkan maka sejak kecil manusia harus dikenalakan dengan pendidikan.
Palaksanaan pendidikan dilakukan oleh dan untuk dirinya sendiri, dengan sasaran
mengembangkan pengetahuan serta menyusun teori-teori keilmuan dan sistem
teknologi. Sasaran pendidikan itu berfungsi sebagai alat, sarana, dan jalan
untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. Pda titik inilah manusia
mewujudkan dirinya sebagai mahluk pendidikan.
Pendidikan
nasional tidak dapat dipisahkan dari usaha bangsa kita untuk membangun suatu
masyarakat Indonesia baru dengan berdasarkan kebudayaan nasional. Berbagai
krisis yang terjadi menunjukkan bahwa masih sangat banyak kepincangan dalam
perubahan yang terjadi. Pendidikan Indonesia dewasa ini telah terlempar dari
kebudayaan, dan telah menjadi alat dari suatu orde ekonomi, atau alat
sekelompok penguasa untuk mewujudkan cita-citanya yang tidak selalu sesuai
dengan tuntutan masyarakat (Tilaar, 2000).
Jalal
dan Supriyadi (2001) mengidentifikasi ada lima kelompok besar isu strategis
yang masing-masing isu tersebut mengandung dimensi-dimensi ekonomi, politik,
budaya, sosial, dan hukum. Isu pertama, lemahnya kemampuan masyarakat dalam
bidang pendidikan. Di samping lemahnya kemampuan finasial, masyarakat juga
belumm memiliki prasyarat kemampuan sosial,
3
kultural, dan legal, serta kemauan politik yang cukup untuk
memprioritaskan pendidikan.
Kedua, lemahnya kemampuan sistem
pendidikan nasional. Sebagai suatu sistem, pendidikan
nasional belum memiliki kemampuan
cukup untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakatnya. Struktur dari sistem
yang baru belum jelas, budaya pendukungnya juga belum jelas, inkonsistensi
dalam peraturan perundangan masih mungkin terjadi. Di samping itu, secara
ekonomi, masih banyak hal yang belum baik, pemborosan dan inefisiensi masih
banyak ditemui. Isu ketiga adalah desentralisasi pendidikan. UU No. 22 tahun
1999 sudah mulai dilaksanakan, namun dalam hal urusan pendidikan belum mencapai
tingkat kesiapan yang memadai. Masalahnya tidak hanya terletak pada
identifikasi dan pemilahan urusan daerah dan urusan pusat, namun juga perlunya
penataan sistem organisasi, manajemen, pengembangan sumber daya manusia, sumber
daya finansial, dan lain sebagainya. Keempat, relevansi pendidikan. Apabila
peran pendidikan itu sendiri masih belum jelas, tentu saja sistem yang relevan
dengan antisipasi perkembangan sosial-budaya masyarakat, perekonomian dan
struktur ketenagakerjaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
tatanan politik masyarakat yang demokratis, masih membutuhkan pemikiran yang
mendasar. Kelima, akuntabilitas pendidikan. Pendidikan dituntut dapat
mempertanggung-jawabkan tugas sesuai dengan visi dan misinya kepada masyarakat.
Adalah kewajiban pendidikan untuk menyediakan layanan pendidikan bermutu sesuai
dengan sumber daya yang tersedia dan dipercayakan kepadanya.
4
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah masalah khas manusia. Artinya adalah hanya
manusialah yang mempunyai persoalan pendidikan sepanjang dia itu hidup.
Sedangkan makhluk lain hidup dalam keadaan yang relatif stabil tanpa adanya
sebuah perubahan yang berarti, apalagi perkembangan. Pendidikan nasional tidak
dapat dipisahkan dari usaha bangsa kita untuk membangun suatu masyarakat
Indonesia baru dengan berdasarkan kebudayaan nasional. Berbagai krisis yang
terjadi menunjukkan bahwa masih sangat banyak kepincangan dalam perubahan yang
terjadi. Pendidikan Indonesia dewasa ini telah terlempar dari kebudayaan, dan
telah menjadi alat dari suatu orde ekonomi, atau alat sekelompok penguasa untuk
mewujudkan cita-citanya yang tidak selalu sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Budi
pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan
dan keburukannya melalui norma agama, norma hukum, tata krama dan sopan santun,
norma budaya dan adat istiadat masyarakat. Budi pekerti akan mengidentifikasi
perilaku positif yang diharapkan dapat terwujud dalam perbuatan, perkataan,
pikiran, sikap, perasaan, dan kepribadian peserta didik.
Karakter
bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai
budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan
memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai
kepribadian masyarakat tersebut.
Sebagai
agen perubahan mahasiswa mempunyai peran penting dalam membantu persoalan
pendidikan yang ada di Indonesia. Melalui usaha-usaha pemberdayaan masyarakat,
progres pengabdian ke masyarakat sebagai bentuk integritas terhadap masyarakat.
B. Saran
Peran
pendidikan seharusnya dipahami bukan saja dalam konteks mikro (kepentingan anak
didik yang dilayani melalui proses interaksi pendidikan), namun juga dalam konteks
makro, yaitu kepentingan masayarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat
bangsa, negara dan masyarakat dunia. Hubungan pendidikan dengan masyarakat
mencakup hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik,
dan negara. Oleh karena pendidikan terjadi di masyarakat, dengan sumber daya
masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut
5
untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi
terhadap perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan kenegaraan secara
silmultan.
DAFTAR PUSTAKA
Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
Zuriah, Nurul. 2008. Pendidikan
Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
7
No comments:
Post a Comment