to my life :)

WELCOME TO MY LIFE

Friday, December 28, 2012

BAHASA PELAMARAN MEMINANG ADAT BUGIS


TUGAS : KELOMPOK
NAMA KELOMPOK :
Ø  SITTI RUSDIANAH
Ø  ST.NURHADIJAH
Ø  SRI NIRMA WANTI
Ø  MUTHARAH
Ø  NURHAYATI
Ø  DIAN SARIRA
Ø  ANITA DIAN PRATIWI
Ø  HASAN


‘’BAHASA PELAMARAN MEMINANG ADAT  BUGIS’’

Pihak laki-laki : ‘’Assalamualaikum,o…punna bola  weddi mo ka ma tamma’ka ribola’ta’’

 
‘’Assalamualaikum,wahai  Tuan rumah bolehkah  kami masuk’’

Pihak perempuan : ‘’waalaikumusalam.wr.wb,
Idi tau engka’e ritana’e agar  o aka tata.Nare’ko annu  ma decceng’
Tamma’ki,Narek;ko annu majja rewe’ni.

‘’waalaikumsalam wr.wb,
Wahai orang yang berada ditanah,sebelumnya kami mau tahu apa maksud dan tujuan.kalaulah datangnay baik tentu kami sambut baik kalau datangnya membawa petaka mending tuan balik segera.

Pihak Laki-laki;engka kala’pung ilalleng  loppi
Ajja’ta bonga-bonga de ti’seng’ngi
Pura ti’seng’ngi engka ka pole
Na tomakutana mupa
Buah ati pappoji
Angin pole ritengga petang
Mabela a pole nge’ku
E’lo si runtu pappojin’na ati’ku
Ana manu-manu  rewiring salo
Meddu makkalutu maddara aje’na
Narekko tennia ati mappoji
Aga guna’na u’lokka mai

Ada kura-kura dalam perahu
Janganlah pura-pua tidak tau.
Sudah tahu kami menuggu
Masih anda bertanya pula

Buah hati kasih saying
Angin menyapa ditengah sunyi
Dari jauh kami dating
Ingin berjumpa idaman hati

Anak gagak ditepi sungai
Jatuh berlutut berdarah kaki
Untuk apa kami kemari

Pihak perempuan;tappere duta,tappere riolo
Tappere engka  riwettu riolo
Narekko tongeng’ngi ada’ta
Aga ro mancaji jaminan’na

Tikar pandan tikar anyaman
Tikar ada sejak berjaman
Kalaulah benar ucapan tuan
Apa taruhan sebagai jaminan

Pihak Laki-laki;  A lopi elo rate’ri onro’ta
Anging kencang pole ri’attang
Aga’na jaminag ri’yelori
Tapauni ejja tama siri

Perahu berlayar ke Tanjung tuan
Angin bertiup kearah selatan
Apa taruhan yang tuan inginkan
Cobalah sebut janganlah segan

Pihak perempuan;Mappasang liling laleng lopi
Lopi aju ma’biri tasi
Sengaja’I halangi botting paru’e
Nasaba sara’ ade’na deppa na selesai

Pasang Lilin dalam perhu
Perahu kayu melandai pantai
Sengaja dihilang pengantin baru
Karena syarat adatnya belum selesai

Pihak Laki-laki ;  Tori poji’ku ma pake bowong
Bossi paja toni langi’e macakka toni
Engka’ki mai pole bingu’ki
Aga’sabana di ahlangi risumppang’nge parampuang

Pujaanku pakai kerudung
Hujan redah cuaca pun terang
Kami datang semuanya bingung
Mengapa dipintu kami dihalang

Pihak perempuan;Aja tamma selling
Kain lampe ri’akka tenning mase’
Mako memmeng ade’na tau ogi’e riolo
Sumpang’nge di jaga’e manure ade’e

Jangan kaget semua itu
Kain panjang dipegang erat
Begitulah adat bugis zaman dulu
Pintu dijaga menurut adat

Pihak laki-laki ;   utti ulaweng matasa situnrung
Tapalesso’I riyaae’na mejang’nge
A’iyye, goncing ulaweng u serakange’ki
Tabbukani tange’ta masitta

Pisang emas masak setandan
Mari letakkan diatas meja
Ini kunci  emas kami berikan
Bukalah pintu dengan segera.

Pihak perempuan;tatajeng’ngi dolo
Nasaba eloka mitai
Asli moga ato palsu
Nasaba’ sara’na selesai manenni
Makessini ku siruntu’ni tau ripoji’ta
Tunggu dulu tuan,
Kami hendak melihat
Apakah asli atau tiruan.

Karena syarat telah terpenuhi
Dipersilahkan tuan menjumpai pujaan hati

penggunaan gejala bahasa pleonasme di harian Koran kompas


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat dan rahmatnyalah kami bisa bekerja dan berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “penggunaan gejala bahasa pleonasme di harian Koran kompas” tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengulas gejala bahasa pleonasme yang di gunakan dalam harian Koran kompas.
            Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak dosen mata kuliah bahasa Indonesia dan kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang konstuktif dari pembaca demi perbaikan dan pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua.









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………................................................................i
DAFTAR ISI…………………......................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar belakang……………………………..............................................1
B.       Rumusan masalah…………………………….........................................2
C.       Tujuan penulisan……………………………………..............................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian pleonasme …………………………………………................3
B. Jenis-jenis dalam gejala bahasa pleonasme………………….....…………4
C. Faktor-faktor gejala bahasa pleonasme…………………………………...5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………….............................7
B. Saran……………………………………..................................…………..8
DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
            Di dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari banyak di dengar dan di baca. Ternyata masih banyak kata-kata yang rancu maupun kata-kata yang berlebihan. Pengucapan atau penulisan bahasa tersebut secara sadar dan tidak sadar kata-kata yang berlebihan ini sebenarnya tidak perlu di tambahkan, tetapi kadang-kadang untuk memperjelas suatu kata atau kalimat. Untuk meluruskan penggunaan gejala bahasa tersebut.
B. Rumusan masalah
            Beberapa rumusan masalah yang akan di bahas pada bab pembahasan antara lain :
·         Apa saja jenis-jenis bahasa pleonasme di dalam harian Koran kompas ?
·         Factor apa yang menyebabkan bahasa pleonasme ?
C. Tujuan penelitian
·         Secara umum makalah ini untuk memberikan pemahaman, wawasan dan pengetahuan tentang bahasa pleonasme kepada pembaca dan kepada masyarakat.
·         Secara khusus makalah ini memberikan pengetahuan dan wawasan di dalam bahasa Indonesia agar dapat memenuhi tugas kuliah bahasa Indonesia, mengetahui jenis-jenis gejala bahasa pleonasme dan factor yang menyebabkan penggunaan bahasa pleonasme.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian gejala bahasa pleonasme
            Kata pleonasme berasal dari bahasa bahasa latin yaitu “pleonasmus” yang artinya kata yang berlebihan. Sebenarnya kata ini memperlihatkan pemakaian kata yang berlebihan sebenarnya tidak di perlukan.
B. Jenis-jenis atau macam pleonasme
            Di dalam bahasa Indonesia ada 3 (tiga) jenis bahasa pleonasme yaitu :
1.      Dua kata atau lebih yang sama maknanya di pakai sekaligus dalam suatu ungkapan ( bersinonim, maksudnya mempunyai makna dasar yang sama tetapi konotasinya berbeda ) contohnya, kata agar supaya, di dalam kalimat : saya belajar dengan rajin agar supaya lulus.
Dalam kata itu sebenarnya cukup menulis salah satunya, keduanya memiliki makna yang sama karena kata itu juga bersinonim. Contoh lainnya yaitu mulai sejak, demi untuk, dan sebagainya.
2.      Dalam sebuah ungkapan terdiri atas dua kata. Gejala bahasa pleonasme jenis yang kedua ini yaitu penggunaan kata yang tidak di perlukan lagi karena makna yang terkandung oleh kata itu sudah terkandung dalam kata yang pertama. Sering orang mengucapkan turun ke bawah, naik ke atas tampil kedepan dan seterusnya. Ungkapan seperti itu sudah di anggap sebagai gaya bahasa walaupun sebenarnya kalau di pikirkan penggunaan kata kedua itu tidak perlu di gunakan lagi.
3.      Gejala bahasa pleonasme jenis ketiga ( di nyatakan dalam ungkapan terjadi penjamakan atau gramatikal ). Misalnya di katakan :
1). Dalam perjalanan keluar negeri itu presiden kunjungi beberapa Negara sahabat.
2). Para tamu-tamu berdiri ketika upacara di mulai.


            Perhatikan ungkapan beberapa Negara-negara dalam kalimat pertama tidak sesuai dengan kalimat bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia tidak terdapat gejala “ concord “ yaitu penyesuaian seperti dalam bahasa inggris dan belanda. Bila kata bilangannya satu, kata bendanya pun berbentuk tunggal, bila kata bilangannya dua atau lebih, maka kata bendanya pun berbebtuk jamak.
            Perhatikan bentuk para tamu-tamu dalam kalimat ke dua. Kata para mengacu pada pengertian jamak, perulangan kata benda tamu-tamu juga menunjukkan pengertian jamak. Jadi, pengertian jamak di nyatakan dua kali. Berlebih-lebihan, bukan ? oleh karena itu, cukup bila di katakan para tamu, atau dengan bentuk perulangan tamu-tamu.
C. Faktor-faktor yang menyebabkan gejala bahasa pleonasme
            Ada beberapa hal yang menyebabkan orang memakai kata-kata yang berlebihan atau bahasa pleonasme, antara lain :
1.      Seseorang atau masyarakat sudah terlalu biasa membacanya atau menggunakannya, tidak terasa lagi bahwa ungkapan itu mengandung pernyataan yang berlebihan.
2.      Di gunakannya bahasa daerah misalnya di alek manado
3.      Masuknya pengaruh bahasa asing misalnya gejala “ concord “ yaitu persesuaian contohnya lima orang anak-anak, di dalam pemakaian bahasa Indonesia cukup di sebut “ lima anak “.
4.      Keinginan seseorang menegaskan kata dengan tujuan agar menarik dan menegaskan kalimat.


D. Faktor-faktor pemakaian pemakaian bahasa tidak mengetahui perbedaan bahasa yang baik dan benar dalam harian Koran kompas
            Ada beberapa faktor penyebabnya antara lain :
·         Kesalahan wartawan dalam menulis berita
·         Ke tidak hatian editor mengubah tulisan
·         Memperindah kata-kata agar ceritanya menarik untuk di baca.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Jadi berdasarkan hasil penelitian dugaan mengenai dugaan sementara saya yang ada di bab 1, ternyata masih di temukan kerancauan dan kata yang berlebihan.
B. Saran
            Berdasarkan hasil kesimpulan di atas di sampaikan kepada pihak terkait di dalam penulisan harian Koran kompas sebagai berikut :
1.      Kepada semua wartawan agar sebelum memberikan editor tulislah cerita yang benar di dalam penggunaan kata-kata, kalimat.
2.      Kepada para editor agar berhati-hati memilih dan menyunting berita yang di berikan oleh wartawan


DAFTAR PUSTAKA
SARIRA, HARDIANTI. 2012. Materi pokok bahasa Indonesia. Kendari : Stain kendari

TUGAS KELOMPOK :
HARDIANTI SARIRA
ANITA DIAN PRATIWI
ROSDIANA

KALIMAT EFEKTIF BAGIAN I



Tugas Bahasa Indonesia

KALIMAT EFEKTIF BAGIAN I
 











Oleh:
Anita Dian Pratiwi
Nazra .H. Alimuddin
Amiruddin

STAIN KENDARI
2012/2013


KATA PENGANTAR

             Segala puji bagi Allah SWT karena dengan limpahan rakhmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tak lupa pula kami mengirimkan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, serta semua pengikutnya  hingga hari kiamat semoga Allah SWT menempatkan mereka ditempat yang muliah disisinya.
Dalam  makalah ini yang membahas tentang “KALMAT  EFEKTIF BAGIAN 1” kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu  kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga kami dapat memeperbaiki kesalahan kami.
Dalam hal ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan masalah ini dengan baik walaupun kai menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang tidak terlepas dari kodrat manusia yang selalu khilaf.
Demikianlah insya Allah makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua sekian dan terima kasiah, wassalam



Kendari, 18 september 2012


Penulis


i

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR...........................................................                  (i)
DAFTAR ISI...........................................................................                  (ii)
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang............................................................                  (1)
B.     Rumusan Masalah......................................................                  (2)
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kalimat Efektif........................................                  (5)
B.     Syarat-syarat Kalimat Efektif....................................                  (5)
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan..................................................................                  (12)
B.     Saran............................................................................                  (12)
DAFTAR PUSTAKA










                                                        ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Kalimat adlah wadah pernyataan pikiran, pernyataan pikiran itu sendiri berasal dari pengembangan gagasan pokok dengan cara tertentu pikiran yang disampaikanmelalui berbagai bentuk kalimat diarahkan untuk mencapai sasaran atau efek tertentu sesuai dengan yang dimaksud pengguna bahasa yang bersangkutan. Proses penyampaian dan penerimaan pikiran dapat efetif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pikiran secara jelas kepada pembaca atau pendengar sehingga mencapai sasarannya. Kalimat efektiflah yang menyebabkan proses penyampaian dan panerimaan pikiran dapat berlangsung dengan baik.

Begitu juga halnya dalam penyusunan karya tulis ilmiah mengharuskan penulis menggunakan kalimat-kalimat efektif untuk mengembangkan gagasan-gagasannya. Kalimat yang demikian ditandai oleh adanya kepanduan unsur kalimat, kelogisan hubungan antar bagian kalimat, pemusatan perhatian pada bagian-bagian tertentu, dan kehematan penggunaan kata. Kalimat efektif menyelaraskan isi pikiran penulis dengan struktur kalimat yang benar menurut kaidah bahsa indonesia.

B.  RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalh ini adalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
2.      Apa saja syarat-syarat kalimat efektei ?







1
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagssan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya didalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.


B.       SYARAT KALIMAT EFEKTIF
    Keterpaduan
  Keterpaduan adalah keterpaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga maksud atau informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah (sistematis)
·         Kalimat tidak bertele-tele dan harus sistematis
·         Kalimat yang padu menggunakan pola aspek-agen-verbal atau aspek-verbal-pasien
·         Diantara predikat kata kerja dan objek penderita tidak disisipkan kata daripada atau tentang.
Penyebab ketidakpaduan
Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak sistematis. Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele misalnya :
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kalimat diatas bisa diperbaiki supaya menjadi kalimat yang padu.
Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
a.    Surat itu saya sudah baca
b.    Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan
Kalimat diatas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk
a.     Surat itu sudah saya baca.
b.    Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan
                                                   2
Kalimat yang tidak padu perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita perhatikan kalimat dibawah ini :
a.       Mereka membicarakan dari pada kehendak rakyat
b.      Makalh ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat
Seharusnya :
a.       Mereka membicarakan kehendak rakyat
b.      Makalh ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat

Kepararelan
Kepararelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. artinya, bila dalam suatu kalimat menggunakan bentuk nominal berarti seterusnya menggunakn nominal. Apabila bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua jaga menggunakan verba. Contohnya :
a.       Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes
b.      Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok Memasang penerangan, pengujian sistempembagian air, dan pengaturan tata ruang
Kalimat A tidak mempunyai kesejajaran karerna dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu
a.       Harga minyak dibakukan atau dinaikkan secara luwes
Kalimat B tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya yaitu kata pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal, sebagai berikut :
b.      Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Akan tetapi, bukan berarti menghilangkan kata atau frasa yang dapat memperjelas kalimat, kalimat hemat memiliki beberapa kriteria yaitu penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh :
-          Karena ia tidak diundang ia tidak datang ke tempat itu
-          Hadirin serentak berdirisetelah mereka mengetahui presiden datang
Perbaikannya
-          Karena tidak diundang, ia tidak datang ketempat itu
-          Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang
Penghematan dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian superodinat pada hiponim kat contoh :
-          Ia memakai baju warna merah
-          Dimana engkau menangkap burung pipit itu ?
Perubahannya
 Ia memakai baju merah
-          Di mana engkau menangkap pipit itu ?
Penghematan dengan cara mebghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat contoh :
-          Dia hanya membawa badannya saja
-          Sejak dari pagi dia bermenung
Perbaikannya
-          Diaa hanya membawa badannya
-          Sejak pagi dia bermenung
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak, misalnya :
-          Para tamu-tamu
-          Beberapa orang-orang
Perbaikannya
-          Para tamu
-          Beberapa orang

Penekanan
Yang dimaksud dengan penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untik membentuk penekanan dalam kalimat. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu didepan kalimat (di awal kalimat)
Contoh :
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ilah presiden mengharapkan
Contoh :
Harapan presiden ialah agar rakyat memebangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden
Jadi penekanan kalimatdapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
Membuat urutan kata yangbertahap
Contoh :
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya :
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar
Melakukan pengulangan kata (repetisi)
Contoh :
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh :
Anak itu malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
Mempergunakan partikel penekanan (penegasan)
Contoh :
Saudaralah yang bertanggung jawab

Kevariasan
Untuk membuat kalimat yang tidak monoton dan menjemukan, diperlukan adanya variasi. Kevariasian dapat ditempuh dengan berbagai cara berikut. variasi penggunaan kata
Contoh :
Pembicaraan itu membicarakan kenakalan mahasiswa (monoton)
Pembicaraan itu membahas kenakalan mahasiswa. (variatif)
Variasi dalam pembukaan kalimat
Contoh :
a.       Frasa keterangan tempat atau keterangan waktu diletakkan diawal kalimat.
Dari desa yang terpencil ia merantau ke bandung
b.      Penggunaan frasa verbal
Merombak kendaraan tua adalah kegemarannya.
c.       Penempatan klausa anak kalimat
Ketika ujian berlangsung, mahasiswa itu jatuh sakit
      
Bentukan kata
Salah satu penyebab kalimat tidak efektif adalah penggunaan bentukan kata berimbuhan yang tidak tepat
Contoh :
1.    Anak-anak melempari batu kedalam sungai.
2.    Guru menugaskan siswanya membuat karangan
Kalimat-kalimat tersebut tidak efektif karena menggunakan kata berimbuhan yang tidak tepat. Akhiran-i pada kata melempari pada kalimat 1 membutuhkan objek yang bergerak, sedangkan akhiran-kan pada kata menugaskan membutuhkan objek yang diam
Perbaikannya :
1.    Anak-anak melmparkan batu kedalam sungai
2.    Guru menugasi siswa membuat karangan

Struktur kalimat
Penyebab lain ketidakefektifan kalimat adalah pemakaian struktur kalimat yang tidak tepat. Misalnya, penempatan subjek dan predikat yang tidak jelas
Contoh :
1.      Di antara ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat
2.      Kalau lulus ujian, maka saya akan mengadakan syukuran.
Kalimat 1 tersebut tidak efektif karena tidak ada subjeknya. Subjek kalimat tersebut terganggu oleh adanya preposisi sementara pada kalmat 2 induk kalimat saya akan mengadakan syukuran terganggu oleh munculnya konjungsi maka
Perbaikannya
1.      Ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat
2.      Kalau lulus ujian, saya akan mengadakan syukura

Kesejajaran
Kesejajaran berarti kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat. Bila bentuk pertama menggunakan kata kerja, bentuk selanjutnya juga harus kata kerja, dan seterusnya
Contoh :
1.      Tugas para pekerja itu adalah mengecat rumah, perbaikan saluran air, dan pemasangan pagar
2.      Kegiatan hari ini adalah mengedit karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata yang salah.
Perbaikannya
1.      Tugas para pekerja itu adalah pengecatan rumah, perbaikan saluran air, dan pemasangan pagar.
2.      Kegiatan hari ini adalah pengeditan karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata yang salah.

Kontaminasi
Dalam bidang bahasa, kontaminasi berarti kerancuan atau kekacauan penggunaan kata, frasa, maupun kalimat.
Contoh :
1.      Di yayasan itu dipelajarkan berbagai keterampilan wanita
2.      Kita harus mengenyampikan urusan pribadi kita
3.      Buku itu sudah dibaca oleh saya
Pada kalimat 1 dan 2 terdapat kerancuan bentuk kata dipelajarkan dan mengenyampikan sedangkan pada kalimat 3 terjadi kerancuan bentuk kalimat pasif.
Perbaikannya
1.      Di yayasan itu di ajarkan berbagai keterampilan wanita.
2.      Kita harus mengenyampikan urusan pribadi kita
3.      Buku itu sudah saya baca


Pleonasme
Gejala pleonasme berarti menggunakan kata-kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan sebenarnya.
Contoh :
1.      Pada zaman dahulu kala, kerajaan majapahit sangat berpengaruh
2.      Kesehatannya telah pulih kembali
Kedua kalimat tersebut menggunakan kata yang berlebihan. Pada kalimat 1 kata zaman = waktu = kala, jadi cukup digunakan salah satu saja sedangkan pada kalimat kedua kata pulih = kembali seperti semula.



















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya didalam pikiran pendengar atau pembaca
2.      Syarat kalimat efektif diantaranya keterpaduan, penyebab keterpaduan, kehematan, dan penekanan.

B.     SARAN
Tak ada gading yang tak retak begitupun juga dengan makalah ini masih jauh dari kriteria kesempurnaan oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangatlah kami harapkan untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi pada pembuatan berikutnya.






















DAFTAR PUSTAKA
Dwitya. Bahasa kuliah. Jakarta. PT. Macana Jayahttp,2006:
Eneng, Hernit dkk. Bahasa indonesia. Yogyakarta : Pokja Akademik   Sunan kalijaga 2005
S, Tanjung. Bunga Rampai. Jakarta. PT. Intan Pariwara Paramita,1998
Wiyamarta, Ahmad. 1991. Seni menggayakan kalimat. Yogyakarta : Kanisius
//www.google.com/paragraf bahasa indonesia
http://www.google .com/kalimat efektif